kucing

Jumat, 29 April 2016

PERBANDINGAN MANUSIA INDONESIA, JEPANG, DAN CHINA

PERBEDAAN MANUSIA INDONESIA, CHINA, JEPANG

Pola sikap dan tingkah laku masyarakat suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu faktor lingkungan hidup (lingkungan alami maupun lingkungan sosial), faktor keturunan, faktor pengalaman, serta faktor pendidikan dan pengetahuan yang diperolehnya. Lingkungan hidup itulah yang kemudian membentuk karakter masyarakat suatu bangsa dan itulah yang kemudian dianggap sebagai ciri khas/karaktristik bangsa tersebut.

INDONESIA

Masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai macam suku yang tersebar di penjuru Nusantara. Masing-masing suku memiliki watak dan karakter masing-masing. Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam kultur dan etnik dalam kesatuan Republik Indonesia dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”. Dengan perbedaan ini bangsa Indonesia kaya akan kultur (budaya) dan etnik, dari berbagai suku dan ras yang ada. Perbedaan ini menimbulkan watak atau karakter dari masing-masing suku dan ras.

    Orang Indonesia mempunyai Watak yang lemah

maksudnya adalah sebagian besar orang Indonesia mempunyai karakter yang kurang kuat. Manusia Indonesia kurang dapat mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya. Mereka mudah dipengaruhi, apalagi jika dipaksa, dan demi untuk ’survive’  (bertahan hidup) mereka dapat langsung bersedia mengubah keyakinannya. Makanya kita dapat melihat gejala pelacuran intelektuia amat mudah terjadi dengan manusia Indonesia.

    Orang Indonesia lebih suka tidak bekerja keras, kecuali terpaksa

Sangat bertolak belakang dengan masyarakat Jepang yang suka bekerja keras. Dan kebiasaan mereka (rakyat Jepang) yang ber-harakiri (bunuh diri) apabila mereka gagal.
Gejala mengapa masyarakat Indonesia seperti ini adalah dilihat dari cara-cara banyak orang yang ingin segera menjadi “millionaire seketika”, seperti orang Amerika yang membuat instant tea, atau dengan mudah mendapat gelar sarjana sampai memalsukan atau membeli gelar sarjana, supaya segera dapat pangkat, dan dari kedudukan berpangkat cepat bisa menjadi kaya.

    Orang Indonesia mempunya sifat mentalitas yang meremehkan mutu

Kebutuhan akan kualitas dari hasil karya kita dan rasa peka kita terhadap mutu sudah hampir hilang. Hal ini akibat dari kemiskinan hebat yang melanda bangsa kita, sampai tidak sempat memikirkan mengenai mutu dari pekerjaan yang dihasilkan dan mutu dari barang dan jasa yang kita konsumsi. Kita tidak memiliki daya saing dalam produksi ekspor, dimana produksi kita masih dimonopoli oleh sejumlah orang mampu dan tenaga ahli yang terbatas.

Masalah mentalitas meremehkan mutu ini disebabkan karena proses penyebaran, perluasan, pemerataan, dan ekstensifikasi dari sistem pendidikan kita yang tidak disertai dengan perlengkapan sewajarnya dari prasarana-prasarana pendidikan.

      Orang Indonesia terkenal dengan ketidakdisiplinannya

ini merupakan suatu sifat yang justru pada zaman setelah revolusi tampak makin memburuk dan merupakan salah satu pangkal daripada banyak masalah sosial budaya yang kita sekarang hadapi. Banyak orang Indonesia, terutama di kota-kota, hanya berdisiplin karena takut akan pengawasan atas. Pada saat pengawasan itu kendor atau tidak ada, maka hilanglah juga hasrat murni dalam jiwanya untuk secara ketat menaati peraturan- peraturan.

JEPANG

Pilar Hidup / Nilai Budaya Orang Jepang

Pilar utama nilai-nilai budaya Jepang dikenal dengan wa (harmoni), kao (reputasi), dan omoiyari (loyalitas). Konsep wa mengandung makna mengedepankan semangat teamwork, menjaga hubungan baik, dan menghindari ego individu. Kao berarti wajah. Wajah merupakan cermin harga diri, reputasi, dan status sosial.

Masyarakat Jepang pada umumnya menghindari konfrontasi dan kritik terbuka secara langsung. Membuat orang lain “kehilangan muka” merupakan tindakan tabu dan dapat menyebabkan keretakan dalam hubungan bisnis. Sedangkan omoiyari berarti sikap empati dan loyalitas. Spirit omoiyari menekankan pentingnya membangun hubungan yang kuat berdasarkan kepercayaan dan kepentingan bersama dalam jangka panjang.

1. Ramah dan sopan

Khas budaya negara timur, penduduknya biasanya sangat ramah dan bersahabat. Orang Jepang cenderung untuk selalu menyapa dan mengucapkan salam kepada orang yang ditemuinya, sekalipun itu orang asing yang belum mereka kenal.

Sama halnya dengan budaya Jawa dan berbeda dengan budaya barat, budaya Jepang memperhatikan penghormatan dan sikap sopan kepada orang yang memiliki status sosial lebih tinggi atau lebih tua. Bahasa Jepang juga memiliki kosa kata khusus yang digunakan untuk menunjukkan penghormatan atau yang lebih sopan seperti “krama inggil” dalam bahasa Jawa.

2. Tumbuh Sebagai Satu Komunitas

Orang Jepang cenderung maju dan berkembang sebagai satu komunitas daripada sebagai individu-individu yang terpisah. Kultur kebersamaan ini bisa terlihat jika kita sudah bergabung dengan komunitas tertentu, misalnya di laboratorium, unit kegiatan mahasiswa, atau perusahaan. Mereka membentuk program-program atau kegiatan yang dapat memacu kemajuan bersama.

Contohnya training bersama, konsep senior yang mendampingi junior, kegiatan saling mengajar atau knowledge transfer untuk mendistribusikan kemampuan anggota yang lebih unggul kepada anggota lainnya. Selain itu ketika mereka sudah bergabung dalam komunitas tertentu, maka mereka lebih dikenal identitas komunitasnya daripada identitas individunya. Kombinasi antara kebanggaan akan komunitasnya dan usaha-usaha untuk memajukan komunitasnya inilah yang menjadikan masyarakat Jepang tumbuh dalam komunitas-komunitas yang kuat dan progresif.

CHINA

Menurut sejarah, Negara Tiongkok sarat dengan berbagai masalah politik, sosial, dan ekonomi. Ini merupakan salah satu sebab mengapa orang Cina Daratan cukup banyak yang migrasi ke negara lain. Asia Tenggara dan Indonesia merupakan salah satu tujuan mereka, bahkan mayoritas penduduk Singapura adalah keturunan etnis Cina.
Salah satu karakteristik orang Cina yang sangat kasat mata adalah kekayaan finansial yang dimilikinya, Padahal kekayaan finansial belum tentu dinikmati dan sangat relatif bagi setiap orang. Tidak jarang kita temui orang Cina yang bekerja sebagai petani di Kalimantan.

Setiap keluarga Cina sangat mengutamakan pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka. Begitu mereka punya uang sedikit, anak-anak mereka disekolahkan di sekolah-sekolah terbaik dunia atau negara tersebut. Tujuannya agar para generasi penerus mempunyai landasan kuat secara intelektual sehingga mampu menganalisa peluang-peluang bisnis serta memandang dunia secara makro dan berpandangan jauh ke depan.
Manajemen pendidikan di Cina ialah tersentralisasi, mulai darilevel pusat, propinsi, kotamadya, kabupaten dan termasuk derah otonomisetingkat kotamadya. Pendidikan di Cina terdiri atas empat sektor yaitu
basic education, technical danvocational education, higher educationdanadult education. Di samping itu juga terdapat pendidikan prasekolah yang materinya meliputi permainan, olah raga, kegiatan kelas ,observasi, pekerjaan fisik, serta aktivitas sehari-hari.















Jumat, 15 April 2016

Perumusan Manusia Unggul



PERUMUSAN MANUSIA YANG UNGGUL

Pengertian Manusia Unggul
Manusia unggul adalah manusia yang mempunyai berbagai kelebihan. Keunggulannya tidak hanya memiliki satu kelebihan. Melainkan memiliki berbagai skill yang dibutuhkan. Manusia unggul ini selalu ingin menjadi yang terdepan. Dan, Manusia unggul pastinya berbeda dengan manusia pada umumnya. Perbedaan manusia unggul umumnya terletak pada kemampuan yang dimiliki baik skill dalam menyelesaikan segala persoalan dengan tepat dan cepat maupun kemampuan dalam hal berinovasi menciptakan sesuatu yang baru.

Indikator manusia yang unggul

1.       Memiliki ilmu pengetahuan
2.       Memiliki cita-cita, misi, dan visi.
3.       Memiliki keunggulan kompetitif,komporatif,dan keunggulan inovatif
4.       Taat hukum, menghargai hak asasi manusia.
5.       Memiliki rasa tanggung jawab
6.       Bersikap rasional, menghargai waktu

Tidak sedikit cara yang dapat digunakan untuk menjadi manusia unggul. Artinya, berbagai cara dapat dijadikan sebagai pedoman dalam mengembangkan keunggulan kualitas pribadi. Yang pertama, manusia yang dalam hidupnya selalu bersumber pada Al Qur’an dan Al Hadist. Memahami dan selalu membaca Al Qur’an dapat menciptakan keunggulan kualitas pribadi karena Al Qur’an merupakan sumber kehidupan yang lengkap dan sempurna.

Memiliki skil yang sempurna. Skill yang tidak berdasar pada kemampuan pada umumnya. Tetapi, skill yang dimiliki oleh manusia unggul merupakan skill yang tidak dimiliki oleh orang lain. Sebagai contoh, era globalisasi ini kita memerlukan suatu skill bahasa yang tidak dipunyai masyarakat pada umumnya. Hal ini dapat dilakukan dengan menguasai bahasa asing lebih dari tiga bahasa, misalnya bahasa inggris, bahasa arab dan bahasa mandarin.

Berbagai keuntungan akan mendampingi Manusia unggul tatkala mereka bersaing dengan orang lain. Manakala kita melihat dari namanya saja manusia unggul, hal ini menunjukkan bahwa manusia tersebut unggul dari para pesaingnya. Meski demikian, yang paling pokok adalah Menjadi manusia unggul yang selalu bersumber pada al qur’an dan al hadist akan mengantarkan keselamat an kehidupannya dunia dan akherat. Pasalnya, mereka selalu berorientasi pada ilmu pengetahuan. Sebagaiamana disebutkan dalam Al Qur’an bahwa ilmu pengetahuan merupakan amalan yang tidak pernah terputus.

Berangkat dari pemaparan diatas, manusia unggul merupakan manusia yang memiliki kualitas yang tentunya tidak dimiliki manusia pada umumnya. Mereka selalu berusaha dan bekerja keras untuk menjadi yang terbaik. Disamping itu, Manusia unggul tentunya memiliki ilmu pengetahuan yang luar biasa. Manakala bangsa indonesia memiliki banyak manusia unggul, maka bangsa kita tidak hanya dapat bersaing dengan negara maju di era globalisasi ini, tetapi juga bisa menjadi negara inovator bagi negara maju. manusia unggul ini akan memberikan kontribusi yang besar bagi bangsa.


Kesimpulan
         Dari uraian yang telah dibahasa bahwasanya menjadi manusia yang bekualitas itu dapat dibentuk dengan cara meningkatkan ilmu pengetahuan, memperbaiki diri dari tingkat emosional, menjalankan segala upaya dengan semangat yang tinggi untuk menjadi manusia yang berkualitas disertai oleh nilai-nilai religiu yang tinggi.