PERBEDAAN MANUSIA INDONESIA, CHINA, JEPANG
Pola sikap dan tingkah laku masyarakat suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu faktor lingkungan hidup (lingkungan alami maupun lingkungan sosial), faktor keturunan, faktor pengalaman, serta faktor pendidikan dan pengetahuan yang diperolehnya. Lingkungan hidup itulah yang kemudian membentuk karakter masyarakat suatu bangsa dan itulah yang kemudian dianggap sebagai ciri khas/karaktristik bangsa tersebut.
INDONESIA
Masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai macam suku yang tersebar di penjuru Nusantara. Masing-masing suku memiliki watak dan karakter masing-masing. Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam kultur dan etnik dalam kesatuan Republik Indonesia dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”. Dengan perbedaan ini bangsa Indonesia kaya akan kultur (budaya) dan etnik, dari berbagai suku dan ras yang ada. Perbedaan ini menimbulkan watak atau karakter dari masing-masing suku dan ras.
Orang Indonesia mempunyai Watak yang lemah
maksudnya adalah sebagian besar orang Indonesia mempunyai karakter yang kurang kuat. Manusia Indonesia kurang dapat mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya. Mereka mudah dipengaruhi, apalagi jika dipaksa, dan demi untuk ’survive’ (bertahan hidup) mereka dapat langsung bersedia mengubah keyakinannya. Makanya kita dapat melihat gejala pelacuran intelektuia amat mudah terjadi dengan manusia Indonesia.
Orang Indonesia lebih suka tidak bekerja keras, kecuali terpaksa
Sangat bertolak belakang dengan masyarakat Jepang yang suka bekerja keras. Dan kebiasaan mereka (rakyat Jepang) yang ber-harakiri (bunuh diri) apabila mereka gagal.
Gejala mengapa masyarakat Indonesia seperti ini adalah dilihat dari cara-cara banyak orang yang ingin segera menjadi “millionaire seketika”, seperti orang Amerika yang membuat instant tea, atau dengan mudah mendapat gelar sarjana sampai memalsukan atau membeli gelar sarjana, supaya segera dapat pangkat, dan dari kedudukan berpangkat cepat bisa menjadi kaya.
Orang Indonesia mempunya sifat mentalitas yang meremehkan mutu
Kebutuhan akan kualitas dari hasil karya kita dan rasa peka kita terhadap mutu sudah hampir hilang. Hal ini akibat dari kemiskinan hebat yang melanda bangsa kita, sampai tidak sempat memikirkan mengenai mutu dari pekerjaan yang dihasilkan dan mutu dari barang dan jasa yang kita konsumsi. Kita tidak memiliki daya saing dalam produksi ekspor, dimana produksi kita masih dimonopoli oleh sejumlah orang mampu dan tenaga ahli yang terbatas.
Masalah mentalitas meremehkan mutu ini disebabkan karena proses penyebaran, perluasan, pemerataan, dan ekstensifikasi dari sistem pendidikan kita yang tidak disertai dengan perlengkapan sewajarnya dari prasarana-prasarana pendidikan.
Orang Indonesia terkenal dengan ketidakdisiplinannya
ini merupakan suatu sifat yang justru pada zaman setelah revolusi tampak makin memburuk dan merupakan salah satu pangkal daripada banyak masalah sosial budaya yang kita sekarang hadapi. Banyak orang Indonesia, terutama di kota-kota, hanya berdisiplin karena takut akan pengawasan atas. Pada saat pengawasan itu kendor atau tidak ada, maka hilanglah juga hasrat murni dalam jiwanya untuk secara ketat menaati peraturan- peraturan.
JEPANG
Pilar Hidup / Nilai Budaya Orang Jepang
Pilar utama nilai-nilai budaya Jepang dikenal dengan wa (harmoni), kao
(reputasi), dan omoiyari (loyalitas). Konsep wa mengandung makna
mengedepankan semangat teamwork, menjaga hubungan baik, dan menghindari
ego individu. Kao berarti wajah. Wajah merupakan cermin harga diri,
reputasi, dan status sosial.
Masyarakat Jepang pada umumnya menghindari konfrontasi dan kritik
terbuka secara langsung. Membuat orang lain “kehilangan muka” merupakan
tindakan tabu dan dapat menyebabkan keretakan dalam hubungan bisnis.
Sedangkan omoiyari berarti sikap empati dan loyalitas. Spirit omoiyari
menekankan pentingnya membangun hubungan yang kuat berdasarkan
kepercayaan dan kepentingan bersama dalam jangka panjang.
1. Ramah dan sopan
Khas budaya negara timur, penduduknya biasanya sangat ramah dan
bersahabat. Orang Jepang cenderung untuk selalu menyapa dan mengucapkan
salam kepada orang yang ditemuinya, sekalipun itu orang asing yang belum
mereka kenal.
Sama halnya dengan budaya Jawa dan berbeda dengan budaya barat, budaya
Jepang memperhatikan penghormatan dan sikap sopan kepada orang yang
memiliki status sosial lebih tinggi atau lebih tua. Bahasa Jepang juga
memiliki kosa kata khusus yang digunakan untuk menunjukkan penghormatan
atau yang lebih sopan seperti “krama inggil” dalam bahasa Jawa.
2. Tumbuh Sebagai Satu Komunitas
Orang Jepang cenderung maju dan berkembang sebagai satu komunitas
daripada sebagai individu-individu yang terpisah. Kultur kebersamaan ini
bisa terlihat jika kita sudah bergabung dengan komunitas tertentu,
misalnya di laboratorium, unit kegiatan mahasiswa, atau perusahaan.
Mereka membentuk program-program atau kegiatan yang dapat memacu
kemajuan bersama.
Contohnya training bersama, konsep senior yang mendampingi junior,
kegiatan saling mengajar atau knowledge transfer untuk mendistribusikan
kemampuan anggota yang lebih unggul kepada anggota lainnya. Selain itu
ketika mereka sudah bergabung dalam komunitas tertentu, maka mereka
lebih dikenal identitas komunitasnya daripada identitas individunya.
Kombinasi antara kebanggaan akan komunitasnya dan usaha-usaha untuk
memajukan komunitasnya inilah yang menjadikan masyarakat Jepang tumbuh
dalam komunitas-komunitas yang kuat dan progresif.
CHINA
Menurut sejarah, Negara Tiongkok sarat dengan berbagai masalah politik,
sosial, dan ekonomi. Ini merupakan salah satu sebab mengapa orang Cina
Daratan cukup banyak yang migrasi ke negara lain. Asia Tenggara dan
Indonesia merupakan salah satu tujuan mereka, bahkan mayoritas penduduk
Singapura adalah keturunan etnis Cina.
Salah satu karakteristik orang Cina yang sangat kasat mata adalah
kekayaan finansial yang dimilikinya, Padahal kekayaan finansial belum tentu dinikmati dan
sangat relatif bagi setiap orang. Tidak jarang kita temui orang Cina
yang bekerja sebagai petani di Kalimantan.
Setiap keluarga Cina sangat mengutamakan pendidikan terbaik bagi
anak-anak mereka. Begitu mereka punya uang sedikit, anak-anak mereka
disekolahkan di sekolah-sekolah terbaik dunia atau negara tersebut.
Tujuannya agar para generasi penerus mempunyai landasan kuat secara
intelektual sehingga mampu menganalisa peluang-peluang bisnis serta
memandang dunia secara makro dan berpandangan jauh ke depan.
Manajemen pendidikan di Cina ialah tersentralisasi, mulai darilevel pusat, propinsi, kotamadya, kabupaten dan termasuk derah otonomisetingkat kotamadya. Pendidikan di Cina terdiri atas empat sektor yaitu
basic education, technical danvocational education, higher educationdanadult education. Di samping itu juga terdapat pendidikan prasekolah yang materinya meliputi permainan, olah raga, kegiatan kelas ,observasi, pekerjaan fisik, serta aktivitas sehari-hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar